Artikel

Narkoba? Bukan Solusi Bagian 1

Dibaca: 1 Oleh 12 Agu 2020November 13th, 2020Tidak ada komentar
berita dan artikel 1
#BNN #StopNarkoba #CegahNarkoba

“ Ngilangin stress karena banyak masalah? Pake narkoba dong Bro.”

“ Ga pake narkoba, ga gaul kawan.”

“ Kalau ga pake narkoba, cemen!”

“ Kamu mau punya banyak teman, hilangkan semua masalahmu, hidupmu bebas? Gampang Bro. Isap ini sedikit aja. Mantap kali. Serius aku. Cobalah”

“ Laki sejati harus pakai narkoba.”

Berikut merupakan berbagai pernyataan yang sering didengar untuk membuat pemuda tertarik mencoba narkoba. Awalnya coba sedikit lalu lama-lama ketagihan akhirnya kecanduan dan susah lepas dari jerat narkoba. Beberapa anggapan keliru dari pemakai narkoba adalah:

  1. Anticipatory Beliefs: anggapan jika memakai narkoba, orang akan melihat sebagai orang yang dewasa, hebat, mengikuti mode dll.
  2. Relieving Beliefs: Keyakinan bahwa narkoba dapat mengatasi ketegangan, cemas, depresi dll.
  3. Facilitative atau Permissive Beliefs: Keyakinan bahwa narkoba adalah gaya hidup modern dan mengikuti globalisasi (Rosmala Dewi, 2019)

Ketiga anggapan keliru yang berkembang dalam pergaulan ini dapat menjadi pendorong para pemuda untuk mencoba narkoba. Tetapi kebanyakan para pemakai pemula ini tentu saja ditawarkan oleh orang lain yang memang telah menjadi pemakai sebelumnya.

Awal mula perkenalan para pemakai dengan narkoba yang akhirnya menjadi kecenderungan untuk candu memiliki beberapa pola, antara lain :

  1. Pola coba-coba: Karena iseng atau rasa ingin tahu, juga ada tekanan dari kelompok teman yang sangat besar yang terus menerus menawarkan dan membujuk untuk mencoba narkoba.
  2. Pola pemakaian sosial: memakai narkoba untuk tujuan pergaulan (memakai narkoba saat berada di lingkup kelompok yang memakai narkoba agar diakui atau diterima di kelompok tersebut.
  3. Pola pemakaian situasi: memakai narkoba saat situasi tertentu seperti stress, kesepian dll karena pemakaiannya sebelumnya narkoba dapat memanipulasi emosi dan suasana hati
  4. Pola habituasi (kebiasaan) : saat memakai narkoba secara teratur maka terjadi perubahan pada faal tubuh dan gaya hidupnya
  5. Pola ketergantungan dengan gejala khas: gejala khas timbul saat terjadi putus konsumsi dan berusaha untuk mendapatkan narkoba dengan melakukan hal tertentu seperti berbohong, menipu, mencuri dll (Rosmala Dewi, 2019)

Di era milenial ini, Indonesia mendapat bonus demografis dimana angkatan kerja lebih banyak dari angkatan tua. Usia produktif (umur 15- 64 tahun) mencapai 68,7% dari jumlah keseluruhan penduduk Indonesia[1]. Bonus demografis ini tentu saja akan sangat menguntungkan jika narkoba dapat menjadi musuh bersama yang dijauhi. Karena saat seseorang telah menjadi pecandu maka narkoba akan menjadi bagian dari hidupnya. Tubuhnya tidak akan mampu lagi menjalankan fungsi-fungsinya tanpa mengonsumsi dalam dosis yang biasanya.


Oleh : Anindita Ayu Pradipta

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel