Cegah Komplikasi Serius Dengan Mengenal Gejala dan Pengobatan Sejak Dini

Cegah Komplikasi Serius Dengan Mengenal Gejala dan Pengobatan Sejak Dini

September 14, 2016 // By: // Artikel // No Comment // 277 Views

Beberapa masalah kesehatan berikut masih banyak menyebabkan komplikasi serius, bahkan kematian.  Berbagai penyakit kritis seperti Kanker, Jantung koroner, Hepatitis dan penyakit kritis lainnya, perlu dikenali gejala dan pengobatannya sejak dini untuk mengurangi faktor risiko.

JANTUNG KORONER
Meski cukup banyak jenisnya, namun gangguan jantung yang paling umum ditemukan adalah penyakit arteri koroner. Ini adalah kondisi tersumbatnya pembuluh darah yang menyuplai darah ke jantung akibat akumulasi plak (lemak, kolesterol, kalsium, dan endapan lain).

Plak tersebut bisa mengeras sehingga arteri koroner menyempit, atau bocor, sehingga terjadi pembekuan darah di permukaan plak. Hal itu membuat aliran darah ke jantung terhambat.

Biasanya gejala muncul berupa rasa sakit pada daerah dada atau serangan jantung. Ada beberapa faktor risiko yang membuat seseorang mungkin menderita penyakit jantung koroner. Usia, jenis kelamin, dan riwayat kesehatan keluarga merupakan faktor risiko yang tidak dapat dikontrol. Sedangkan kolesterol tinggi, hipertensi, obesitas, kurang olahraga, merokok, dan diabetes adalah faktor risiko yang berkaitan dengan gaya hidup sehingga bisa dikontrol.

Teknologi perawatan penyakit jantung dapat membantu mengurangi tingkat kematian akibat jantung koroner. Diharapkan, perubahan gaya hidup dan obat-obatan membuat kondisi jantung membaik. Jika diperlukan tindakan bedah, sejak tahun 1970an, para dokter spesialis jantung telah mengembangkan metode angioplasty balon, stent metal, stent drug eluting metal hingga bypass.

KANKER
Kanker bermula ketika terjadi kerusakan DNA, sehingga sel di salah satu bagian tubuh tumbuh tidak terkontrol. Sel-sel tubuh yang normal lantas tumbuh untuk menggantikan sel-sel yang mati. Sedang sel-sel kanker terus tumbuh dan membentuk sel-sel abnormal bahkan tumbuh di jaringan tubuh lain serta merusaknya.

Kenapa DNA bisa rusak? Kebanyakan kerusakan terjadi karena ada ‘kesalahan’ ketika sel bereproduksi atau karena sel terpapar sesuatu dari lingkungan, misalnya asap rokok. Tapi sebetulnya masih sulit untuk menyebut dengan pasti penyebab timbulnya kanker pada seseorang.

Di seluruh dunia, kanker termasuk penyakit yang paling banyak menyebabkan kematian. Menurut WHO, pada tahun 2008, ada 7,6 juta orang di dunia yang meninggal dunia akibat kanker dan 70% kematian akibat kanker terjadi di negara-negara yang warganya berpenghasilan rendah-menengah.

Itu sebabnya, upaya pencegahan, deteksi dini dan pengobatan tepat (serta murah) sangatlah penting. Pasalnya, sekitar 30% kematian akibat kanker sebenarnya bisa dicegah karena berkaitan dengan gaya hidup dan pola makan, yaitu kegemukan, kurang asupan buah dan sayuran, kurang gerak dan olahraga, merokok, serta konsumsi alkohol.

Pentingnya deteksi dini adalah peluang sembuh dapat diperbesar jika kanker terdeteksi di tahap dini dan segera diobati. Screening tes kesehatan sebelum ada gejala untuk menemukan ketidak normalan sel yang menjurus kanker. Jika ditemukan sel pra-kanker, akan dilanjutkan dengan pengobatan agar tidak menjadi kanker. Contoh screening: Pap Smear dan mamografi.

FAKTA KANKER
Ada lebih dari 100 jenis kanker, tiap bagian tubuh dapat terserang kanker. Di dunia, kanker paru-paru adalah jenis yang paling banyak menyebabkan kematian pria dan kanker payudara penyebab utama pada wanita. Konsumsi tembakau terkait dengan 22% kematian akibat kanker di seluruh dunia. Seperlima jenis kanker di seluruh dunia disebabkan oleh infeksi kronis, misalnya: infeksi HPV penyebab kanker serviks dan infeksi virus hepatitis B penyebab kanker hati.

Penderita kanker payudara disurvei yang memiliki kemarahan terpendam dan tidak bisa disalurkan. hal ini memunculkan hormon kortisol setiap kali wanita merepresi emosi negatifnya tersebut. Vitamin C dan manajemen emosi yang baik akan membantu wanita mencegah risiko kanker dan mempercepat proses regenerasi sel dengan baik, demikian keterangan tim peneliti di Stanford University, California.

HEPATITIS
Prof. dr. Laurentius A. Lesmana, PhD, SpPD-KGEH, FACP, FACG, pembina Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia, mengemukakan, saat ini Indonesia menempati urutan ketiga jumlah penderita hepatitis B terbanyak di dunia setelah Cina dan India. Penderita Hepatitis B dan C di Indonesia diperkirakan 25 juta orang, 50% berkembang menjadi penyakit kronis, dan 10% menjadi kanker hati.

Hepatitis adalah peradangan pada liver akibat infeksi virus. Hepatitis B dan C disebabkan oleh virus yang berbeda, namun keduanya dapat berkembang menjadi kanker hati. Virus hepatitis B menyebar melalui darah, air mani, atau cairan tubuh lainnya; dan masuk ke tubuh orang yang belum terinfeksi. Hepatitis C biasanya menyebar ketika darah dari orang terinfeksi virus memasuki tubuh seseorang yang belum terinfeksi. Bisa juga ditularkan lewat hubungan seksual.
Kebanyakan, pengidap Hepatitis B tidak mengalami gejala apa pun. Setelah masa inkubasi, barulah gejala dapat timbul berupa menguningnya kulit dan mata, urin gelap, kelelahan ekstrim, mual, muntah dan nyeri perut.

Sekitar 80% penderita Hepatitis C tidak menunjukkan gejala apapun setelah infeksi awal, namun dapat pula menunjukkan gejala mirip Hepatitis B. Penderita Hepatitis B dan C yang tak menunjukkan gejala tetap dapat menularkan virus pada orang lain.

Profesor Laurentius menyayangkan, sampai saat ini masih banyak masyarakat yang belum diimunisasi hepatitis. Padahal, dengan imunisasi, angka kejadian penyakit dapat menurun secara signifikan. Karena tidak menunjukkan gejala, seringkali orang berobat sudah dalam tahapan lanjut.

Menurut Dr. dr. Rino Alvani Gani, SpPD, KGEH, FINASIM, deteksi dini hepatitis memainkan peran penting untuk melihat tingkat kerusakan hati dan jumlah virus agar penderita mendapatkan pengobatan yang tepat.

Mereka yang sebaiknya menjalani deteksi dini adalah para pekerja kesehatan, keluarga pasien hepatitis, mereka yang punya riwayat narkoba, transfusi darah, tato, tindik, serta wanita hamil. Namun demikian, tidak semua penderita memerlukan terapi. Sebagian cukup menjalani monitoring 6 bulan sekali.

DIABETES MELLITUS
Merupakan gangguan kesehatan yang mengakibatkan sel-sel tubuh menjadi resisten terhadap rangsangan insulin untuk bereaksi memproses gula darah. Karena tak bisa masuk ke dalam sel untuk diproses menjadi energi, glukosa pun menumpuk dalam darah.

Diabetes tipe 1 biasanya terjadi karena masalah autoimun. Sedang diabetes tipe 2 disebabkan oleh gaya hidup tak sehat. Apapun tipenya, penderita diabetes mengalami kelebihan glukosa dalam darah. Jika tak terkontrol dapat menyebabkan kerusakan organ. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi adalah:

  • Penyakit kardiovaskular, seperti serangan jantung dan stroke.
  • Kerusakan syaraf. Kadar gula darah berlebih merusak dinding pembuluh darah halus yang ‘memberi makan’ ujung-ujung syaraf, terutama di kaki. Rusaknya syaraf ditandai kesemutan, kebas, atau panas pada ujung jari-jari kaki. Kerusakan pada organ pencernaan bisa menimbulkan mual, diare, atau konstipasi.
  • Gangguan ginjal karena rusaknya sistem penyaring racun pada ginjal.
  • Kerusakan mata akibat rusaknya pembuluh darah retina, yang bisa berakibat kebutaan. Diabetes juga bisa meningkatkan risiko terkena katarak dan glukoma.

Gejala diabetes: Sering buang air kecil, haus dan lapar berlebihan, kelelahan dan mudah mengantuk, pandangan kabur, luka atau memar yang lama sembuh, kebas atau kesemutan di ujung jari kaki.

Hanya orang gemuk yang kena diabetes?
Tidak juga. Kegemukan dan obesitas merupakan salah satu faktor resiko diabetes. Namun ada juga faktor lain yang cukup berpengaruh seperti usia di atas 45 tahun, riwayat diabetes dalam keluarga, jarang berolahraga, hipertensi, dan hiperkolesterol. Semua hal tersebut bisa dialami oleh mereka yang berat badannya normal. Jadi meski tidak kegemukan bisa saja Anda berisiko tinggi menderita diabetes jika punya faktor-faktor resiko tersebut.

Tinggalkan Komentar